"Ambillah satu bila itu benar milikmu", katanya sambil tersenyum.
Aku sangat terkejut mendengarnya. Ambil saja? Yang benar saja. Itu kan mahal sekali.
"Semua orang di sini akan mengambilnya bila itu miliknya", lanjutnya.
Miliknya? Bagaimana orang tahu kalo itu miliknya? Kemudian aku teringat sebelum aku ke sini, aku dibekali dengan sebuah kotak kecil seperti kotak perhiasan. Aku membuka kotak tersebut. Ternyata kotak itu menyediakan seperti sebuah cetakan dengan pola tertentu. Orang itu mengatakan,"Carilah yang sesuai dengan tempatmu itu dan itu menjadi milikmu."
Kemudian aku melihat-lihat dan aku tertarik pada satu permata yang berkilauan. "Aku mau yang itu", kataku kepada pemilik toko sambil menunjuk kepada permata itu. "Masuklah", kata orang itu. Aku pun masuk mengikuti orang itu. Orang itu mengambilkan permata yang aku maksud tadi sambil berkata,"Cobalah masukkan permata ini ke dalam kotakmu. Bila pas, itu menjadi milikmu." Dengan sangat senang aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam kotakku. "Loh, kenapa kebesaran?" Dengan kecewa aku pun mengembalikan permata itu. "Berarti ini memang bukan milikmu. Jangan kecewa, carilah di toko lain, mungkin kamu akan menemukan yang pas dengan kotakmu. Apa yang kamu inginkan ini memang indah, tapi nanti kamu akan menemukan yang pas dan tentu saja itu indah di matamu." Aku pun keluar dari toko itu.
Aku mencoba menyusuri lorong itu kembali dan melihat ke toko-toko di kanan-kiriku dengan berharap bahwa aku akan menemukan yang aku suka. Dan.... akh... akhirnya aku menemukannya. Ada permata yang sangat indah di sebuah toko. Dengan tidak sabar, aku masuk ke toko itu dan meminta tolong untuk mengambilkan permata itu. Ternyata pas. Tapi penjaga toko itu berkata, "Perhatikanlah pola permata itu dan pola yang ada di kotakmu. Itu tidak sesuai. Jadi, itu bukan milikmu." Dengan kecewa kembali, aku mengembalikan permata itu.
"KENAPA YANG INDAH ITU TIDAK BISA AKU MILIKI? APAKAH AKU MEMANG TIDAK MENDAPAT BAGIAN UNTUK MEMILIKI PERMATA YANG INDAH?", aku berteriak-teriak di dalam hatiku.
Aku berjalan kembali dengan harapan akan menemukan permata atau berlian yang pas untukku. Aku melihat-lihat melalui kaca jendela. Sekarang aku hanya mengamat-amati dulu apakah permata atau berlian itu pas untuk kotakku. Meskipun indah, tapi bila tidak pas, aku tidak mau mencobanya dulu, daripada aku kecewa lagi. Tapi aku melihat ada beberapa berlian yang indah. Tapi aku tahu bahwa itu tak akan pas untuk kotakku.
Aku berjalan sambil bertanya-tanya,"Kapan aku mendapatkannya?" Aku melihat beberapa orang sudah bergembira karena sudah mendapatkan miliknya. Sedih rasanya melihat diriku yang belum mendapatkan milikku. Tapi di samping kesedihanku, aku pun juga melihat bahwa masih banyak juga yang belum mendapatkannya.
Akhirnya, dengan harapan akan mendapatkan yang pas untuk kotakku, aku berjalan kembali. Sampai kapan? Sampai lorong ini berakhir. Mungkin bila di tengah jalan, sebelum lorong ini berakhir, aku melihat bahwa aku tidak mendapatkannya, aku akan tetap berjalan hingga di ujung lorong dan pulang.