Senin, 21 Maret 2011

Milik Kitakah?

Suatu ketika aku pergi ke suatu kota. Kota itu sangat meriah. Di malam hari terdapat kerlap-kerlip lampu yang menghiasi kota itu. Seakan-akan penduduknya tak pernah tidur. Kemudian mataku tertuju ke suatu lorong kota. Daerah itu tidak sepi, tapi juga tidak terlalu ramai. Aku berjalan menelusurinya. Di kanan kirinya semua adalah toko. Ternyata itu adalah daerah penjual permata dan mutiara. Wow, indah sekali permata dan mutiara yang dipajang di depan toko. Ingin rasanya aku mengambilnya, satu saja. Aku mendekati sebuah toko dan memandangi yang ada di situ. semuanya indah-indah. Tapi tentu aku tak punya cukup uang untuk membelinya, bahkan satu pun tak mampu. Kemudian ada satu orang yang keluar dari toko itu. Ternyata dia adalah pemilik toko itu.

"Ambillah satu bila itu benar milikmu", katanya sambil tersenyum.

Aku sangat terkejut mendengarnya. Ambil saja? Yang benar saja. Itu kan mahal sekali.

"Semua orang di sini akan mengambilnya bila itu miliknya", lanjutnya.

Miliknya? Bagaimana orang tahu kalo itu miliknya? Kemudian aku teringat sebelum aku ke sini, aku dibekali dengan sebuah kotak kecil seperti kotak perhiasan. Aku membuka kotak tersebut. Ternyata kotak itu menyediakan seperti sebuah cetakan dengan pola tertentu. Orang itu mengatakan,"Carilah yang sesuai dengan tempatmu itu dan itu menjadi milikmu."

Kemudian aku melihat-lihat dan aku tertarik pada satu permata yang berkilauan. "Aku mau yang itu", kataku kepada pemilik toko sambil menunjuk kepada permata itu. "Masuklah", kata orang itu. Aku pun masuk mengikuti orang itu. Orang itu mengambilkan permata yang aku maksud tadi sambil berkata,"Cobalah masukkan permata ini ke dalam kotakmu. Bila pas, itu menjadi milikmu." Dengan sangat senang aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam kotakku. "Loh, kenapa kebesaran?" Dengan kecewa aku pun mengembalikan permata itu. "Berarti ini memang bukan milikmu. Jangan kecewa, carilah di toko lain, mungkin kamu akan menemukan yang pas dengan kotakmu. Apa yang kamu inginkan ini memang indah, tapi nanti kamu akan menemukan yang pas dan tentu saja itu indah di matamu." Aku pun keluar dari toko itu.

Aku mencoba menyusuri lorong itu kembali dan melihat ke toko-toko di kanan-kiriku dengan berharap bahwa aku akan menemukan yang aku suka. Dan.... akh... akhirnya aku menemukannya. Ada permata yang sangat indah di sebuah toko. Dengan tidak sabar, aku masuk ke toko itu dan meminta tolong untuk mengambilkan permata itu. Ternyata pas. Tapi penjaga toko itu berkata, "Perhatikanlah pola permata itu dan pola yang ada di kotakmu. Itu tidak sesuai. Jadi, itu bukan milikmu." Dengan kecewa kembali, aku mengembalikan permata itu.

"KENAPA YANG INDAH ITU TIDAK BISA AKU MILIKI? APAKAH AKU MEMANG TIDAK MENDAPAT BAGIAN UNTUK MEMILIKI PERMATA YANG INDAH?", aku berteriak-teriak di dalam hatiku.

Aku berjalan kembali dengan harapan akan menemukan permata atau berlian yang pas untukku. Aku melihat-lihat melalui kaca jendela. Sekarang aku hanya mengamat-amati dulu apakah permata atau berlian itu pas untuk kotakku. Meskipun indah, tapi bila tidak pas, aku tidak mau mencobanya dulu, daripada aku kecewa lagi. Tapi aku melihat ada beberapa berlian yang indah. Tapi aku tahu bahwa itu tak akan pas untuk kotakku.

Aku berjalan sambil bertanya-tanya,"Kapan aku mendapatkannya?" Aku melihat beberapa orang sudah bergembira karena sudah mendapatkan miliknya. Sedih rasanya melihat diriku yang belum mendapatkan milikku. Tapi di samping kesedihanku, aku pun juga melihat bahwa masih banyak juga yang belum mendapatkannya.

Akhirnya, dengan harapan akan mendapatkan yang pas untuk kotakku, aku berjalan kembali. Sampai kapan? Sampai lorong ini berakhir. Mungkin bila di tengah jalan, sebelum lorong ini berakhir, aku melihat bahwa aku tidak mendapatkannya, aku akan tetap berjalan hingga di ujung lorong dan pulang.

Selasa, 15 Maret 2011

ORANG BESAR & orang kecil

Kalau kita diperhadapkan dengan 2 pilihan, menjadi seorang pemimpin atau anak buah, kita akan memilih yang mana? Masing-masing akan memilih sesuai dengan kemampuan dan karakter mereka masing-masing.

Seseorang yang menjadi ORANG BESAR, contohnya adalah pemimpin akan memiliki perspektif yang lebih luas daripada orang-orang yang ada di bawahnya. Dia sebagai pemimpin akan dilihat oleh sekian banyak orang terutama oleh bawahannya. Seorang pemimpin akan merasa bahwa dia dapat memerintah manusia yang lain dengan perkataannya. Benar? Ya, tapi tak sepenuhnya benar. Setiap manusia memiliki dirinya masing-masing dan orang bawahan tak selalu mengerti apa yang diinginkan oleh pemimpinnya. Pemimpin akan merencanakan ini itu, membuat peraturan agar semua dapat berjalan seperti yang diinginkannya, membuat sanksi bagi yang melanggar, dll.
ORANG BESAR meskipun senang karena dipandang oleh orang banyak (dipuji, dihormati, didengerin omongannya), tapi dituntun sesuatu yang besar darinya. INTEGRITAS. Integritas sebenarnya sangat mudah. "Lakukanlah apa yang kamu ucapkan." Itu cukup untuk membuat kita berintegritas. Namun, hal ini sulit untuk dilakukan. Sebuah kesalahan yang kita lakukan karena kita melanggar apa yang kita ucapkan, bisa dipandang sebagai kesalahan yang besar.

Kalo kita melihat ORANG BESAR itu seperti itu, maka rasanya menjadi orang kecil lebih enak dan lebih mudah. Kesalahan masih dianggap sesuatu yang wajar karena kita orang bawahan, tak perlu memikirkan integritas karena kita akan mengikuti apa yang dikatakan oleh atasan kita. Kita ga perlu memikirkan apa yang dilihat oleh orang lain pada diri kita karena orang akan cenderung melihat ORANG BESAR. Kalo pun kita melakukan sesuatu yang ga enak di mata orang lain, paling-paling yang kena adalah atasan kita. Benarkah seperti itu? Tidak. Betapa egoisnya kalo kita berpikir seperti itu. Kita bisa menjadi bawahan itu juga suatu anugerah. Kita dilibatkan dalam pekerjaan ORANG BESAR meskipun kita bukanlah ORANG BESAR. Mungkin kita tak memikirkan integritas di mata orang lain. Tapi yang akan melihat kita adalah ORANG BESAR yang ada di atas kita. Jadi, tetaplah berintegritas. Kalo kita melanggar sesuatu dari ORANG BESAR yang di atas kita, kita akan kena getahnya. Mungkin satu dua kali tak begitu masalah. Tapi kalo kita tetap tidak menghargai pengampunan itu, kita akan menjadi orang-kecil-yang-tak-tahu-terima-kasih.

Jadi, entah kita ORANG BESAR atau orang kecil, semua memiliki porsi masing-masing dan memiliki konsekuensi masing-masing. ORANG BESAR memiliki tanggung jawab tersendiri, begitu juga orang kecil.

JADILAH ORANG BESAR DAN orang kecil YANG BERTANGGUNG JAWAB.

Jumat, 11 Maret 2011

Tak Seperti yang Aku Harapkan

Hidup ini tak selalu berjalan seperti yang aku harapkan.

Aku suka melakukan perencanaan (meskipun tak selalu). Dalam merencanakan sesuatu, aku pasti membayangkan saat-saat di mana aku melakukan rencana tersebut. Aku suka merencanakan sesuatu karena dari situ aku akan dapat menyiapkan apa yang kira-kira aku butuhin untuk melakukan rencana tersebut.

Namun, tak selalu semua berjalan sesuai yang aku rencanakan. Atau lebih tepatnya tak semua yang aku harapkan selalu berjalan seperti itu. Di usia ke-22 tahunku ini, aku sudah mengalami beberapa hal yang tak berjalan sesuai dengan harapanku. Here's the story.

Aku mulai mengenal persahabatan sejak SMP. Persahabatan yang aku bayangkan adalah persahabatan yang ada di film2. Selalu berbagi cerita, dolan bareng, dll. Tapi apa yang aku bayangkan, bukan itulah yang terjadi. Yang aku rasakan malahan aku bersahabat jarak jauh.
Saat orang menyatakan bahwa mereka menganggap aku sebagai sahabat mereka, aku merasa tersanjung dan dari situ aku mulai membangun hubungan yang mencoba untuk memperhatikan orang tersebut. Tapi ternyata apa yang ada di dalam kehidupan mereka tak selalu aku mengetahui. Saat aku ingin berbagi hidup dengan mereka, tak selalu mereka bisa melakukannya. Mungkin mereka sedang memiliki masalah yang tak bisa dibagikannya dengan aku. Aku terkadang kecewa dengan hal ini. Ini membuatku berpikir apakah arti "persahabatan" yang sesungguhnya. Ataukah standarku yang terlalu tinggi untuk seorang sahabat?

Saat aku cerita-cerita dengan orang tua terutama untuk hal-hal yang kurang enak, aku berharap bahwa aku akan mendapatkan pembelaan. Namun, yang aku dapatkan adalah marah. Entah itu kemarahan terhadap aku maupun terhadap orang yang bersangkutan yang aku ceritakan. Saat aku minta sesuatu kepada orang tua terutama kepada papa, yang terjadi adalah papa tidak mendengarkan permintaanku, tapi langsung menceramahi aku. Tapi itu dulu. Waktu papa ada uang, aku minta laptop n HP juga dibeliin. Hehehe...

Dalam kepengurusan atau kepanitiaan atau pun dalam tim, aku selalu berharap bahwa aku bekerja dengan orang yang dapat bekerja sama dengan cocok dengan aku. Kadang aku sudah menyemangati orang-orang yang akan bekerja bersama aku di dalam kepengurusan atau kepanitiaan itu agar bisa bekerja bersama. Namun, mereka bukanlah aku. Mereka punya "dunia" juga. Mereka punya kesibukan yang tak sama dengan aku. Mereka punya masalah tersendiri. Inilah yang terkadang membuat aku kecewa karena apa yang aku harapkan dari awal untuk bekerja sama dengan mereka, tak berjalan seperti yang aku bayangkan.

Saat aku berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan, atau waktu aku curhat dengan Tuhan, tak selalu Tuhan merespon aku sesuai dengan harapanku. Hingga aku beberapa kali mulai berpikir, apakah Tuhan itu ada.

Semalam aku mulai sadar bahwa banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. Sebelum aku tidur, aku berdoa dan mensyukuri bahwa banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan yang aku harapkan. Dan di akhirnya, aku beryukur bahwa "aku memiliki Tuhan yang tidak seperti yang aku harapkan". Aku disadarkan bahwa aku hanyalah manusia biasa. Di atasku ada Tuhan yang melebihi aku. Segala sesuatu yang aku harapkan adalah seperti yang ada di pikiranku yang terbatas. Tapi aku punya Tuhan yang melebihi pikiranku, yang sanggup melakukan yang lebih baik dari yang kuharapkan meskipun aku harus melalui proses yang ga enak. Banyaknya hal yang tak berjalan sesuai dengan yang aku harapkan, akhirnya aku menjadi seperti sekarang ini. Tuhan membentuk aku, mengajar aku untuk sabar, untuk tetap setia padaNya walaupun Dia ga memberi apa yang aku inginkan. Entah apa jadinya bila semua yang aku minta selalu dituruti. Akankah aku jadi pribadi seperti sekarang ini. Memang saat ini aku pun masih menunggu jawaban Tuhan atas beberapa doaku. Aku berusaha untuk sabar. Biarlah Tuhan bekerja dalam hidupku dan aku dapat melihat pelangi kasihNya.

Terima kasih Tuhan.

Rabu, 09 Maret 2011

Keluarga yang Menjadi Berkat

Aku bukanlah orang yang selalu mensyukuri keluarga yang telah Tuhan berikan padaku. Dulu sering sekali aku merasa lebih baik ngga di rumah. Mau terbuka rasanya sulit. Kalo mau terbuka soal yang ga enak sama mama, trauma masa lalu, ntar mama malah marahin aku. Kalo mau minta sesuatu ma papa, malah di-santlap. Kalo mau cerita-cerita ma cici, rasanya ga terbiasa n rasanya malah ga deket ma cici. Aku sih ga menyelahkan Tuhan yang memberi aku keluarga seperti ini. Tapi aku juga terkadang sulit untuk disuruh mensyukuri keluargaku ini.

Beberapa waktu yang lalu, (atas waktunya Tuhan) aku bertemu dengan teman lamaku. Sudah 6 tahun lebih ga ketemu, padahal ya masih 1 kota. hehehehe... Waktu itu aku diminta bantuan buat ajak dia ke persekutuan pemuda. Ternyata setelah sekian lama ga ngobrol, enak banget. Apalagi orangnya ramah, ga pemalu. Lupa dulu kaya gimana. Tapi itu pun baru ngobrol lewat sms. Belum tatap muka. Paling ya cuma liat fotonya di FB. Sekali lagi, karena waktunya Tuhan kami bertemu bukan karena rencana kami. Kami pun bertemu bukan di kota asal kami.

Singkat cerita, aku berpikir untuk mengajak dia ambil pelayanan di gerejaku. Dia setuju, tapi dia juga mau bergumul. Sementara bergumul, dia mengajak aku dan teman pelayananku buat ngobrolin masalah pelayanan yang aku tawarkan ke dia. Akhirnya kami buat janji dan kami bertiga bisa bertemu di rumahnya. Kami ngobrol gini gitu, dan tiba saatnya buat temenku pelayananku itu untuk menjemput pacarnya. Ok deh. Dia pergi, aku dan temen lamaku pun masih di rumah dia dan kami mengobrol. Trus mamanya juga keluar. Beliau juga kenal aku karena aku dan temanku ini sudah berteman sejak TK. Sesuatu yang luar biasa, aku merasa sebuah keramahan di dalam keluarga itu. Ngga kaku, bisa santai. Dan aku juga merasakan bahwa temanku itu dan mamanya terbiasa untuk saling terbuka.

Setelah pulang dari sana, aku tetap merasakan sesuatu yang hangat. Aku pun menjadi terpengaruh untuk membagikannya di dalam keluargaku. Aku sedang belajar untuk bisa bersikap baik di dalam keluarga. Sejak lama aku merindukan sebuah keluarga yang hangat. Tapi apa pun yang terjadi saat ini, aku bersyukur untuk setiap keadaanku, dan aku bersyukur bisa bertemu dengan keluarga yang hangat. Thx God.

Diri Kita

Entah apa yang orang pikirkan tentang keberadaan diri mereka masing-masing. Setiap orang pasti memiliki dunianya masing-masing. Mereka hidup dalam diri mereka yang berarti bahwa merekalah yang lebih tahu tentang diri mereka daripada orang lain, tetapi kembali juga apakah mereka mau jujur terhadap diri mereka sendiri atau tidak.

Setiap orang pasti memiliki idola. Mungkin mereka tidak menyadarinya. Tapi tiap orang pasti memiliki seseorang yang menjadi teladan mereka, atau paling tidak mereka mencontoh idola mereka. Idola tak selalu harus artis. Tapi cewek atau cowok yang kita sukai pun bisa jadi idola kita. Kita mencoba mencontoh apa yang mereka lakukan, penampilan mereka karena kita menganggap bahwa itu baik atau kita ingin idola kita bisa suka dengan kita karena kita seperti mereka.

Setelah sekian lama, aku menyadari bahwa ada paling tidak 1 hal yang tidak mungkin kita pungkiri dari diri kita. Seberapa kerasnya kita mengubah diri kita, hal itu sulit untuk berubah. Hal itu adalah KEPRIBADIAN. Secara umum, kepribadian dibagi menjadi melankolis, kolerik, sanguin, dan plegmatis. Kenapa aku bilang hal ini sulit diubah? Karena ini menyangkut cara berpikir, cara merasakan, cara menyikapi sesuatu. Namun, setelah mengetahui apa kepribadian kita, bukan berarti kita harus mengumbarnya. Kita tidak perlu membesar-besarkannya. Setiap kepribadian pasti ada sisi positif dan negatifnya. Kenapa bisa begitu? Karena hal itu akan dilihat oleh orang yang memiliki kepribadian yang berbeda yang kemungkinan memiliki cara berpikir atau cara bertindak yang bertentangan dengan kita. OK lah kita menerima diri kita apa adanya, dengan kepribadian yang kita miliki. Namun, ingatlah bahwa apa yang telah Tuhan berikan kepada kita pasti punya tujuan yang baik. Ubahlah apa yang negatif itu menjadi sesuatu yang baik. Misalnya, orang berkepribadian kolerik cenderung akan berwatak keras. Ini bukan berarti dia akan selalu kasar pada orang lain. Namun, dengan kasih Kristus, dia bisa mengubahnya menjadi sikap tegas.

Apa pun kepribadian kita, syukurilah itu. Itulah diri kita. Kita tidak bisa lari darinya. Seberapa keras kita menyembunyikannya, dia akan muncul lagi. Saat kita mau mengakui siapa diri kita, maka kita akan melakukan peran kita di dalam dunia ini dengan lebih baik. Dan jangan lupa bahwa kita ini ciptaan Tuhan, diciptakan dengan maksud baik untuk kemuliaan Allah.

GBU

Senin, 28 Februari 2011

"Pelayanan" atau Melayani?

Kehidupan orang kristen seharusnya tak lepas dari yang namanya PELAYANAN. Banyak hal yang bisa dilakukan dalam pelayanan. Tapi 1 hal yang menjadi pertanyaan: kita sebenarnya hanya sekedar melakukan "pelayanan" atau benar-benar melayani?

Kenapa aku mempertanyakan hal itu? Aku terkadang merasakan bahwa orang-orang di gereja yang melakukan "pelayanan" merasa bahwa mereka bisa show off diri mereka atau merasa bisa dolan dengan melakukan "pelayanan" itu. Kalo hanya ini motivasi untuk melakukan pelayanan, itu akan menjadi sesuatu yang salah.

Untuk anak-anak remaja baru, mereka akan belajar pelayanan melalui ajakan dari kakak-kakak yang lainnya dan mungkin mereka belum mengerti pelayanan yang benar itu seperti apa n untuk apa. N mungkin ada juga yang ga diajak tapi kepingin karena melihat kakak-kakak di gereja yang melakukan ini itu. Ini ga salah karena mereka mengenal pelayanan dari sini. Namun, yang salah adalah saat mereka sudah tahu apa itu pelayanan yang benar n masih saja melakukan pelayanan yang sekedar "pelayanan", bukan melayani. Memang tak mudah untuk melakukan pelayanan yang benar karena kita harus mengalahkan diri kita, keegoisan kita.

Pelayanan seharusnya kita sadari sebagai sebuah kegiatan di mana kita melayani Tuhan, bisa melalui melayani sesama yang kita kenal maupun tidak kita kenal. Bagaimana kita tahu bahwa kita melayani Tuhan dengan pelayanan yang kita lakukan? Kita akan tahu saat kita menyadari bahwa kita ada di situ karena Tuhan yang panggil kita n juga menyadari bahwa Tuhan punya maksud atas pelayanan yang ditugaskan-Nya kepada kita. Kita juga butuh hubungan pribadi dengan Tuhan untuk mengetahui kehendak Tuhan melalui pelayanan yang kita lakukan itu.

Jadi, pelayanan bukanlah sekedar kegiatan yang bernama "pelayanan". Tapi kita seharusnya menyadari bahwa itu adalah tugas mulia dari Tuhan. Tak selalu mudah untuk melakukannya. Butuh pengorbanan tenaga, waktu, uang, bahkan hati. Tapi percayalah, kalo kita melakukannya dengan benar n sesuai kehendak Tuhan, Tuhan akan tolong kita n pelayanan tersebut dapat menjadi berkat buat yang kita layani.

MET MELAYANI
TUHAN MEMBERKATI PELAYANAN KITA.

Sabtu, 01 Januari 2011

2010 to 2011

Tahun 2010 telah berlalu. Saat ini kita sudah memasuki tahun 2011. Manusia kalo masuk tahun yang baru pasti selalu berharap yang baik-baik. Aku pun berharap sesuatu yang baik terjadi di tahun yang baru ini. Tapi entah kenapa di awal tahun ini aku malah merasakan ketakutan-ketakutan. Beberapa di antaranya adalah aku harus menghadapi skripsi dan harus menentukan langkah setelah aku lulus nanti.


Di tahun-tahun sebelumnya aku telah belajar banyak hal. Tapi aku merasa (mulai akhir Desember kemarin) aku harus melepaskan sebagian dari apa yang telah aku pelajari itu. Aku merasa bahwa itu bukan bagianku. Dulu (apalagi waktu remaja) sering jadi WL, tapi sekarang aku merasa ga bisa buat jadi WL (yang baik) padahal aku masih suka ngasi saran n kritik buat WL (hehehe...). Sampe sekarang aku udah menekuni 5 alat musik, tapi lagi-lagi aku merasa bahwa ini bukan bagianku. "Sense of music"-ku rasanya kurang n terkadang kalo aku jadi pengiring malah aku seperti mengacaukan acara tersebut dengan permainanku yang ga rapi atau malah amburadul. Tapi aku bersyukur kalo aku boleh belajar alat musik-alat musik itu. It's beautiful.

Trus kalo ini itu aku lepas, aku ngapain dong?

Akhir-akhir ini (terutama sejak aku jadi koordinator Tim Multimedia gereja), aku sering dilibatkan dalam urusan multimedia, baik sebagai panitia maupun tidak. Di Natal 2010 kemarin, aku sempet ngomong,"Aku pengen natalan", dalam arti aku ingin duduk sebagai jemaat dan menikmati acara natal. Tapi trus ada yang jawab,"Mungkin cara Willi untuk menikmati natal seperti ini." Apa bener? Aku juga bingung. Apa memang ini sebenarnya yang jadi bagianku? Tapi kalo ini memang jadi bagianku, apakah setiap tahun aku harus ngurusin multimedia di paskah dan natal? Aku ga tahu. Pasti ada saatnya aku berhenti untuk ngurusin multimedia dan bisa mengikuti acara. Tapi yang mau aku tekankan di sini adalah aku merasa bahwa ini adalah bagianku. Banyak orang-orang (gereja) mempercayakan multimedia ke aku. Inilah yang jadi alasan aku harus melepas ini itu. Di tempat itu (WL, pengiring), aku merasa ada orang yang lebih cocok dan lebih baik dari aku.

Mungkin aku ga melepasnya 100%. Tapi semoga pertimbanganku ini benar. Setiap manusia memiliki bagiannya masing-masing. Tuhan mungkin percayakan sesuatu yang kecil dan besar kepada kita. Mungkin kita ingin kalo semuanya bisa terlihat besar. Tapi tak selalu yang kecil itu harus menonjol. Yang kecil dapat digunakan sewaktu kita membutuhkan, sedangkan yang besar, mungkin itulah yang harus menonjol dari diri kita. Tapi ingatlah bahwa kita hidup tidak sendiri. Kita berbagi hidup dengan yang lain. Apa yang kita miliki, akan lebih indah bila kita menggunakannya bersama-sama dengan yang lainnya.

SELAMAT TAHUN BARU 2011
TUHAN MEMBERKATI